Di perkampungan Sinto, Sherly duduk di sebuah gubuk mewah yang kini dianggapnya milik pribadi. Jemarinya yang ramping memegang sebuah batu berlian kecil yang memiliki ukiran rumit di permukaannya. Batu itu berkilauan memantulkan cahaya lentera disekitarnya, membuat matanya berbinar.

"Lihat betapa indahnya ini," gumam Sherly pada dirinya sendiri, mengangkat berlian itu hingga sejajar dengan matanya. "Kalau saja aku bisa kembali ke duniaku... Aku akan menjadi kaya raya. Bahkan mungkin lebih kaya dari siapa pun yang pernah kukenal."

Wajahnya dipenuhi kesombongan. Ia tersenyum puas, membayangkan dirinya berjalan di kota besar, dihormati dan dikagumi karena kekayaannya. Semua orang yang dulu meremehkannya pasti akan menyesal.

Namun, jauh di lubuk hatinya, Sherly masih dihantui perasaan was-was. Sejak Lynx meninggalkan perkampungan Sinto, ia merasa bahwa pengaruhnya di antara suku semakin berkurang. Semua orang masih memandang Lynx sebagai pemimpin sejati, meskipun Lynx tidak pernah mengklaim peran tersebut.

Sherly menggenggam erat berlian itu, seolah itu adalah tiketnya menuju kehidupan baru. "Tidak ada yang akan merebut ini dariku," bisiknya tegas. "Aku hanya perlu menunggu saat yang tepat."

Mendadak saja dia mendengar suara seperti guntur di atas langit. Segera dia keluar dari gubuk mewahnya.

Di depan rumahnya, terlihat para suku Sinto sudah berkumpul; dan Leena berada diantara mereka dengan wajah khawatir.

Sementara itu, di tengah perjalanan pimpinan perampok menuju tempat perjanjian dengan pimpinan Monrest, Kronar dan anak buahnya yang membawa beberapa sandra mulai menyadari ada yang tidak beres. Dari kegelapan malam, di kejauhan, kobaran api terlihat melahap sebagian perkampungan mereka.

"Kebakaran?" tanya salah satu prajurit yang berjalan di samping Kronar. "Tapi... bagaimana mungkin?"

Kronar menghentikan langkahnya, wajahnya berubah tegang. Ia menatap nyala api itu dengan tatapan penuh kemarahan. "Ini bukan kebakaran biasa," gumamnya. "Ini ulah seseorang."

"Lynx?" tebak seorang prajurit lain dengan nada takut.

Kronar mengepalkan tinjunya hingga buku-bukunya memutih. "Siapa lagi? Aku tahu dia tidak akan menyerah begitu saja. Tapi aku tidak menduga dia akan melakukan hal ini setelah aku pergi."

"Bagaimana sekarang?" Tanya salah satu perampok kepada Kronar.

"Kita kembali, kalian tunggu disini bersama tahanan! Pastikan mereka tidak melarikan diri atau nyawa kalian sebagai gantinya." Bentak Kronar dengan marah sambil menunjuk kepada para tahanan.

"Akhirnya ada yang menghancurkan rencanamu," kata seseorang dengan tertawa sambil menahan rasa sakit.

Kronar yang marah, menendang dada pria tersebut dengan keras,"Tutup mulutmu. Aku akan menyiksamu dan menghancurkan semua sukumu begitu saatnya tiba."

Kronar segera pergi dan berlari menuju perkampungan bersama beberapa orang anggota kepercayaannya.

Di tengah perjalanan Kronar menuju perkampungan, dari langit terlihat beberapa sinar kilat aneh menuju ke suatu arah dan suara guntur yang terdengar tidak seperti biasanya. Semua suku memandang ke langit melihat fenomena aneh yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

"Apa yang terjadi?" Damon bertanya kepada pimpinan spiritual yang saat itu juga merasakan fenomena aneh yang terjadi.

"Sepertinya sesuatu hal yang besar akan segera terjadi." Kata pimpinan spiritual tanpa dapat menjelaskan. Para dukun Suku Monrest saat ini sedang mempersiapkan formasi sihir dan mengumpulkan banyak manusia untuk dikorbankan agar mendapatkan petunjuk dari leluhur mereka, cara mengalahkan Lynx.

Pada berbagai tempat, terjadi kehebohan. Para suku,hingga makhluk mutasi gelisah merasakan fenomena alam yang terjadi.

Di bagian timur pulau, Kronar dan kelompoknya, sesampainya di perkampungan,hanya menemukan kehancuran. Gudang ransum yang menjadi pusat persediaan mereka habis terbakar. Mayat-mayat anak buahnya berserakan di berbagai tempat. Bangunan utama tempat mereka menyimpan tahanan kosong—semua tahanan menghilang.

Kronar berdiri di tengah reruntuhan dengan tatapan kosong, lalu meledak dalam amarah. Ia menghantamkan tinjunya ke tembok kayu yang tersisa hingga kayu itu retak. "LYNX!" teriaknya, suaranya menggema di perkampungan yang sunyi.

Salah satu prajurit yang bersamanya mendekat dan berkata dengan ragu. "Pimpinan, kita harus mengejarnya. Kita masih punya cukup orang untuk mengepung mereka."

Namun Kronar menggeleng keras. "Kau pikir itu ide cerdas? Kau tidak tahu siapa yang sedang kita hadapi! Dia melakukannya tanpa meninggalkan jejak, tanpa kehilangan satu pun nyawa tahanan! Dia bisa memikirkan rencana ini dan merusak semua rencana kita."

"Tapi kita tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja..."

Kronar menatap prajurit itu dengan mata penuh amarah, membuat pria itu mundur ketakutan. "Diam! Apa kau lupa siapa yang kita hadapi?" Kronar menatap semua anak buahnya yang tersisa. "Lynx bukan orang biasa. Dia menghancurkan markas ini sendirian, sementara aku sedang tidak ada di sini. Sekarang kau ingin aku mengejarnya tanpa sandra di tangan kita? membawa semua yang tersisa, hanya untuk dibantai lagi?"

Anak buahnya terdiam, sebagian menunduk takut, sementara yang lain tampak ragu-ragu.

Kronar menghela napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya. Ia tahu, melawan Lynx secara langsung tanpa strategi matang adalah bunuh diri.

"Kita punya perjanjian dengan Monrest," ujarnya akhirnya. "Kita kembali dan temui mereka. Mereka lebih kuat daripada kita, dan mereka ingin Lynx. Kita laporkan apa yang terjadi, dan biarkan mereka yang menangani sisanya."

Salah satu prajurit yang lebih muda tampak khawatir. "Tapi... jika mereka tahu kita gagal mempertahankan tahanan, bukankah mereka akan menghukum kita juga?"

Kronar menatap prajurit itu dengan dingin. "Jika kita melawan Lynx sekarang, kita semua akan mati. Kau lebih suka itu?"

Tidak ada yang menjawab. Semua prajurit hanya mengangguk patuh, meskipun ketakutan jelas tergambar di wajah mereka.

Kronar mengangkat tangannya, memberi isyarat agar mereka bersiap untuk perjalanan. "Kita tinggalkan tempat ini. Kita temui Monrest dan tunjukkan bahwa kita masih bisa berguna bagi mereka. Dan kalau perlu, kita jebak Lynx di pertemuan berikutnya. Selain itu kita perlu menyelidiki fenomena aneh yang terjadi tadi"

Dengan langkah berat, mereka meninggalkan perkampungan yang kini menjadi puing-puing, membawa sisa sandra yang mereka punya. Sementara itu, di kejauhan, Lynx dan para tahanan yang telah bebas bergerak menuju tempat yang aman, tanpa menyadari bahwa ancaman yang lebih besar sedang menunggu di depan.

Sementara itu, suku Yaksa yang melarikan diri dari perkampungan perampok, Meskipun perjalanan itu panjang dan melelahkan, akhirnya mereka tiba di pinggiran desa Yaksa saat matahari mulai terbit.

Penduduk Yaksa yang melihat kedatangan mereka segera berkumpul, menyambut kepala suku dan para tahanan yang telah lama hilang. Namun, suasana berubah ketika mereka melihat Gahara yang terikat di antara rombongan.

"Dia..." salah satu penduduk berbisik, menunjuk Gahara.

"Dia pengkhianat!" teriak Ayunga dengan lantang, meskipun suaranya masih lemah. "Dia yang menyerahkan kita kepada perampok dan mencuri harta leluhur kita!"

Penduduk mulai bergumam dengan marah, beberapa di antara mereka maju ingin menyerang Gahara. Namun, Lynx mengangkat tangannya, meminta mereka berhenti.

"Dia akan menghadapi keadilan," kata Lynx dengan tenang. "Biarkan kepala suku memutuskan hukumannya."

Penduduk Yaksa menyadari, seorang pria yang tidak mereka kenal sebelumnya telah berdiri diantara mereka. Tatapan curiga dan penasaran terlihat pada sorot mata mereka.

Kepala suku Yaksa menyadari dan mendekati para penduduk. "Dia adalah Lynx. Orang yang telah menyelamatkan kita semua."

Penduduk yang marah terhadap pengkhianat suku mereka, segera mundur dengan enggan setelah mendengar kata-kata ketua suku mereka mengenai siapa pemuda di depan mereka.

Sementara itu Ayunga menatap Lynx dengan rasa hormat. "Terima kasih, Lynx. Kau telah menyelamatkan kami semua. Aku tidak tahu bagaimana kami bisa membalasmu."

"Tidak perlu terima kasih," jawab Lynx. "Yang penting sekarang adalah memastikan suku Yaksa tetap aman dan bersatu. Ada ancaman yang lebih besar yang harus kita hadapi bersama."

Ayunga mengangguk pelan, meskipun matanya menunjukkan kekhawatiran. "Kami akan siap, apapun itu. Tapi untuk saat ini, izinkan kami beristirahat dan mengurus orang-orang kami yang terluka."

Lynx mengangguk, memutuskan untuk tetap tinggal di desa Yaksa sementara, menyusun rencana untuk menghadapi berbagai ancaman berikutnya—baik dari perampok maupun Monrest yang pasti tidak akan tinggal diam.

"Kuharap fenomena alam yang terjadi tadi bukan menandakan sesuatu yang buruk akan terjadi" Batin Lynx sambil merebahkan tubuhnya di lantai untuk beristirahat.
